Hey Millenials, Kamu Harapan Atau Ancaman Negara?

Hi guys, How’s your day? I hope you’re healthy and doing well. We’re happy to introduce you to our Grateful Board on our newsblog. A place where you can share your thoughts, inspiring stories, or a little thing that you’re grateful for today. You can always spread the positivity by dropping it here. Your story will be featured in our Grateful Board section in the next article. See you and stay safe!


This week has been a tiring week for Indonesia. Mereka yang mau menghancurkan NKRI nongol lagi.

The terrorist attack

Depan Gereja Katedral Makassar

Hari Minggu tanggal 28 Maret kemarin Indonesia kembali dihebohkan ama berita serangan bom bunuh diri yang dilakukan oleh pasutri alias sepasang suami istri di depan gereja Katedral Makassar pada hari perayaan Minggu Palem. Pelaku bom bunuh diri di Makassar ternyata adalah anggota kelopok teroris JAD (Jamaah Asharut Daulah). Sebelum beraksi mereka meninggalkan surat wasiat untuk keluarga yang menyatakan bahwa mereka siap mati jihad.

But why?

Dari hasil investigasi sih, mereka sepertinya mau balas dendam atas kematian mentornya yang tewas di tembak oleh Densus 88 di Villa Mutiara Makassar 6 Januari lalu. Mentornya ini juga yang ternyata menikahkan mereka serta mengajarkan cara membuat bom. Rupanya sejak Januari mereka udah merencanakan aksi bom, tapi udah terdeteksi duluan ama Densus 88 dan ketika mau ditangkap, mentornya tewas di tembak Densus 88.

In case you’ve forgotten, ini daftar aksi terorisme JAD di Indonesia:

  1. Bom Thamrin-Sarinah (14 Januari 2016)
  2. Molotov di Gereja Oikumene Samarinda (13 November 2016)
  3. Bom Panci di Cicendo, Bandung (27 Februari 2017)
  4. Bom Kampung Melayu (24 Mei 2017)
  5. Penyerangan Polisi di Polda Sumut (25 Juni 2017)
  6. Penembakan Terhadap Polisi di NTB (11 September 2017)
  7. Bom Gereja di Surabaya (13-14 Mei 2018)
  8. Penusukan Menko Polhukam Wiranto (10 Oktober 2019), and the latest one..
  9. Bom Gereja Katedral Makassar (28 Maret 2021)

Di Mabes Polri

Berselang 2 hari kemudian, Mabes Polri diserang oleh seorang wanita berhasil masuk dengan berpura-pura menjadi warga sipil yang perlu layanan kepolisian. Eh tau-tau pas udah nyampe depan ruang Kapolri, si doi malah nodong polisi di pos penjagaan pake pistol jenis airsoft gun. Sempet nembak polisi 6 kali, ternyata doi kalah level tembak-tembakan ama polisi, dan akhirnya dilumpuhkan polisi dengan tembakan tepat di jantung hati-.. eh maksudnya di jantung XD.

By herself???

Yes.. by herself.. Polisinya nyebutnya sebagai aksis teror lone wolf karena dilakukan seorang diri. Pelaku tenyata juga ninggalin surat wasiat untuk keluarganya sebelum beraksi. Isi suratnya juga kurang lebih mirip dengan isi surat wasiat pelaku bom bunuh diri di Makassar yaitu siap mati jihad dengan keyakinan bahwa dia akan menunggu keluarganya untuk berkumpul kembali nanti di syurga. Hmm…

Si lone wolf ini pun bahkan menyampaikan pesan pada keluarganya bahwa pemilu, Pancasila, UUD, dan demokrasi adalah musyrik.

Ebuset.. that’s our national ideology!

Welp.. pelaku ternyata udah terpapar ideologi ISIS. Terlihat dari aktivitas di sosmednya yaitu postingan foto bendera ISIS 21 jam sebelum beraksi serta barang-barang bukti lain yang ditemukan dirumahnya. Polisi juga menemukan kartu tanda anggota Perbakin (Persatuan Menembak Indonesia). Belakangan polisi menemukan bahwa pistol jenis airsoft gun yang dipake ternyata dibeli secara online dari seorang laki-laki yang ternyata adalah mantan napi terorisme.

WHUT!?

Mirisnya, ketiga pelaku ini ternyata adalah kaum millenial. Usia mereka kurang lebih 25 tahun dan mereka para teroris milenial ini punya kesamaan yaitu cenderung tertutup terhadap orang-orang sekitar atau anti sosial. Beberapa pelaku terror ternyata termasuk orang-orang dengan kondisi ekonomi yang lemah. Sejak insiden bom di Makassar, tim Densus 88 udah nangkep sekitar 32 orang terduga teroris di berbagai daerah Indonesia. Beberapa ada yang ngaku udah berencana untuk meledakkan area tertentu di Indonesia.

Menurut ahli Psikolog pro Help Center, Nuzulia Rahma Tristinarum, seseorang mudah terhasut ajaran terkait terorisme karena kebutuhan perkembangan psikis tidak terpenuhi seiring pertambahan usia. Dan usia remaja hingga dewasa sangat mudah untuk terpengaruh hasutan terorisme.

Anyway.. ngomongin soal pistol & KTA Perbakin, Di Duren Sawit Jaktim kemaren ada koboi jalanan..

Ko..koboi..jalanan?

Itu gegara ada seorang laki-laki yang menodongkan pistol kearah pengendara motor di area Duren Sawit Jaktim. Ceritanya sih dia abis nyenggol wanita pengendara motor, pas disuruh turun untuk selesaikan masalah dan tanggung jawab, eh malah nodong orang-orang pake pistol.

Seorang saksi berhasil merekam kejadian penodongan tersebut yang kemudian viral di sosmed. Seperti biasa, netijen +62 yang gercep langsung menemukan identitas pelaku dan kemudian di sebar di medsos. Polisi pun juga gercep menciduk si pelaku yang maen petak umpet di parkiran mal.

Gak tanggung-tanggung, netijen +62 nyebar identitas pribadi, akun sosmed, bahkan akun LinkedIn pelaku yang ternyata diketahui adalah salah satu CEO perusahaan startup Restock di Jakarta dan masih berusia 30an. Setelah digeledah ternyata, si Koboi Jalanan ini pake pistol jenis airsoft gun, dan punya KTA PERBAKIN juga.

WHUT!??… Again?

Iya tapi Sekjen Perbakin, Firtian Yudit Swandarta bilang, “KTA yang dimiliki adalah KTA Basis Shooting Club, bukan KTA Perbakin. Dia hanya punya kartu aja, itu kartu klub, dia Basis Shooting Club kan? Kalau KTA Perbakin itu tulisannya nggak ada ‘shooting club’, langsung ‘PB Perbakin.” Dan ternyata guys, Club itu udah dibubarin sejak tahun 2014 lalu karena melakukan banyak pelanggaran.

Netijen +62 yang esmosi pun langsung menyerbu akun sosmed perusahaan mulai dari Instagram, LinkedIn, Google review Restock.id pun bertebaran bintang 1. Bahkan app yang namanya mirip pun jadi kena getahnya nejijen +62 yang ngasih biintang 1 di app reviewnya. Netijen oh netijen..


“Hal itulah (berpikir sempit) yang menjadi salah satu penyebab mengapa banyak negara berpenduduk muslim masih mengalami ketertinggalan dalam bidang ekonomi, pendidikan, iptek dan bidang lainnya,”

kata Ma’ruf Amin saat menyampaikan sambutannya dalam Webinar Nasional 2021 yang digelar IKADI dan BNPT dengan tema Peran Da’i Dalam Deradikalisasi Paham Keagamaan di Indonesia. Beliau mengingatkan agar para da’i yang menjadi panutan umat Muslim bisa tetap meneladani cara pikir Rasul yang memang berpikiran terbuka dan moderat. Sebab jika hanya berpegang pada cara pikir sempit justru bisa menghambat dan kontra produktif terhadap upaya membangun kembali peradaban Islam.

 

Just an ordinary girl who loves to read and write.